Ujian Nasional-Budiyono Dion
Nilai UN Belum Cerminkan
Kompetensi Siswa
Peraih nilai tertinggi ujian nasional (UN) di
Deliserdang, Novi Fahdillah tidak lulus di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Sumetera Utara (USU) lewat jalur SNMPTN (TRIBUNNEWS.COM, Rabu, 28 Mei 2014).
Membaca berita tersebut menyadarkan kita, bahwa
nilai UN belum sepenuhnya mencerminkan kompetensi siswa yang sebenarnya. Nilai
UN yang hanya diraih siswa dalam waktu 2-4 hari itu belum sepenuhnya menjadi
konsistensi kemampuan siswa. Apa lagi penyelenggaraan UN yang selalu berbau
kecurangan dan kebocoran kunci jawab, belum dapat mengukur kemampuan siswa yang
sebenarnya. Pada akhirnya, pasarlah yang menentukan kualitas lulusan.
Laporan Wartawan Tribun Medan / Indra Gunawan
Sipahutar, menyebutkan bahwa peraih UN tertinggi di Deliserdang tak diterima di
USU. Siswa SMU Negeri 1 Lubuk pakam tersebut mengaku akan menunggu beberapa
hari kedepan untuk mengikuti ujian melalui jalur SBMPTN.
“Iya bang gak lulus aku, sudah dilihat dari
internet. Tapi gak apa apalah karena mau ikut SBMPTN lah nanti. Mau masuk
kedokteran gigi jugalah di USU. Mudah mudahan kalau yang ini nanti lolos,”ujar
Novi yang ditemui usai mengikuti bimbingan belajar di Lubuk Pakam Rabu,
(28/5/2014) sore.
Untuk saat ini Novi mengaku lebih banyak
menghabiskan waktu untuk membahas soal soal ujian. Ia menceritakan kalau saat
ini tengah sibuk mengikuti kegiatan bimbingan belajar. Ia berharap agar dalam
hal ini nantinya bisa sukses dan lulus di USU.
“Guru bimbingan pun kasih kita terus soal soal untuk
dibahas. Paling ini ajalah dulu. Kata orang tua kalau masih bisa kuliah di
Medan ya di Medanlah,”ujar Novi.
Gurulah yang paling tahu kompetensi siswa yang
sebenarnya. Karena guru sehari-harinya mengetahui kualitas siswa yang
sesungguhnya. Maka dalam memberikan nilai guru tidak boleh sembarangan. Nilai
harus betul-betul dapat mencerminkan kompetensi siswa yang sesungguhnya. Jika
sudah demikian, maka nilai yang dimiliki siswa itu akan menunjukkan kualitasnya
dimana pun siswa itu teruji kembali.