Pelaksanaan UN SMP Hari Pertama
Ujian Nasional (UN) 2014 Sekolah
Menengah Pertama (SMP)/Madarasah Tsanawiyah (MTs) dan Paket B dimulai hari ini,
Senin (5/5/2014) hingga Kamis (8/5/2014). Peserta UN SMP tahun ini terdiri dari
3.902.948 pelajar SMP/MTs dan 227.743 peserta UN Paket B. Mata pelajaran yang
diujikan pada UN SMP 2014 terdiri atas Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa
Inggris, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Dari berbagai pihak
mengharapkan, pelaksanaan UN tahun ini berjalan lancar dan sukses. Namun kenyataan
sering terjadi tidak sesuai dengan harapan itu. Mari kita simak warna warni
peristiwa yang menghiasi berita UN SMP ini dari berbagai daerah di tanah air.
Ucapan selamat, doa dan harapan
sukses pada pelaksanaan UN SMP ini datang juga dari Presiden RI Susilo Bambang
Yudoyono lewat akun Tweeternya @SBYudhoyono, “Anak-anakku, selamat menempuh
Ujian Nasional 3 hari ke depan. Saya doakan semoga lancar dan sukses serta
lulus dengan hasil terbaik," ucapan selamat itu bermakna besar bagi
kita masyarakat, khususnya anak-anak SMP yang baru melaksanakan UN. Sebuah
perhatian besar dari seorang kepala Negara terhadap anak bangsa, calon
inteletual muda yang baru menghadapi hajatan Ujian Nasional. Dan itu perlu kita
berikan apresiasi yang tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Pendidikan Musliar Kasim, memastikan tidak
ada lagi soal UN yang dipolitisasi seperti halnya pada soal UN SMA sederajat,
mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Kemdikbud telah melakukan pengecekan dan
mengganti soal-soal yang terdapat nama tokoh politik," pungkasnya.(
http://www.jawaban.com).
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemdikbud) memastikan tidak akan ada soal Ujian Nasional (UN) SMP
dan sederajat yang dipolitisasi. (
http://www.solopos.com).
Dia menjelaskan, tidak ada unsur kesengajaan dari penulis naskah untuk
memasukkan nama-nama politisi ke dalam soal UN.
Kenyataannya, nama Joko
Widodo muncul pada naskah Ujian Nasional soal Bahasa Indonesia dengan huruf
braille yang ditujukan bagi siswa penyandang tunanetra tingkat SMP/MTs di
Yogyakarta. "Soal yang memuat nama Joko Widodo (Jokowi) muncul di nomor
tiga," kata salah satu siswa tunanetra peserta Ujian Nasional di MTs
Yaketunis Yogyakarta, Wastoyo, di Yogyakarta, Senin (5/5/2014).( Liputan6.com, Yogyakarta )
Pada berita Liputan6.com, Bandung Barat, menyebutkan, pelaksanaan
Ujian Nasional (UN) di SMP Negeri 1 Batujajar, Bandung Barat sempat tertunda 1
jam. Penundaan diakibatkan adanya kekurangan naskah soal dan tidak lengkapnya
jumlah nomor soal. Kondisi ini membuat para pengawas dan para peserta ujian
panik. Seperti ditayangkan Liputan 6 Siang SCTV, Senin (5/5/2014),
setelah melaporkannya pada Dinas Pendidikan setempat, akhirnya diputuskan UN
dilaksanakan menggunakan naskah soal cadangan.
Kepala SMPN 1 Batujajar,
Jaka Supriatna mengaku tidak lengkapnya jumlah nomor pada naskah soal yang
dikerjakan peserta UN dikhawatirkan mengakibatkan kegagalan pada siswa mereka.
"Khawatir ketika
melihat seperti itu takutnya antara yang dikerjakan anak dengan kode barcode
itu yang justru kita tidak tahu sama sekali mengkhawatirkan terjadi kegagalan
pada anak-anak," kata Jaka.
Selanjutnya Liputan 6
Siang SCTV mengabarkan, di Solo,
Jawa Tengah para peserta UN berkebutuhan khusus, khususnya penyandang tunanetra
tidak disediakan soal dengan huruf braille. Mereka harus mengandalkan guru
pendamping untuk membacakan soal-soal ujian. Tidak adanya huruf braille memaksa
para siswa berkebutuhan khusus bekerja ekstra keras untuk menyimak soal yang
dibacakan. Pihak sekolah berharap soal dengan huruf braille bisa tersedia pada
UN hari kedua hingga keempat mendatang. Agar para siswa bisa mengerjakan soal
dengan lebih baik.
Kesan kekurangsiapan
pelaksanaan UN SMP dan kesan sembrono masih saja terlihat dari fakta
berita yang dirangkum di atas. Pelaksanaan UN SMP pada hari pertama masih banyak
diwarnai kejadian-kejadian yang tidak mengenakan hati dan belum sesuai dengan yang
kita harapkan bersama.